Showing posts with label Resensi. Show all posts
Showing posts with label Resensi. Show all posts

Saya Terbakar Amarah Sendirian!


Saya Terbakar Amarah Sendirian!


Judul : Saya Terbakar Amarah Sendirian!
(Pramoedya Ananta Toer dalam Perbincangan dengan Andre Vltchek & Rossie Indira)
Penulis : Andre Vlitchek & Rossie Indira
Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan : I, Januari 2006
Tebal : xxix + 131 hlmn. : 13 cm x 19 cm

Pramoedya, setelah sekian puluh tahun namanya dihapus dari buku-buku sastra,dan buku-bukunya menghilang di rak-rak toko buku kini perlahan tapi pasti namanya kembali berkibar, karya-karyanya dicetak ulang dan selalu jadi best seller di toko-toko buku yang menjualnya. Beberapa penulis secara khusus mencoba mengkaji karya-karya monumentalnya, sebut saja Prof. A. Teeuw yang secara serius mengkaji karya-karya Pram dalam buku "Citra Manusia Indonesia dalam karya PAT (Pustaka Jaya,1997), Eka Kurniawan yang membukukan skirpsinya yang bertajuk Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis (Jendela,2001) atau Prof Apsanti D yang mengkaji secara menarik keempat Tetralogi Bumi Manusia dalam bukunya yang berjudul "Membaca Katrologi Bumi Manusia (Indonesia Tera, 2005). Selain karya-karyanya dijadikan bahan kajian penulis-penulis lokal dan luar negeri Pram juga kerap jadi incaran dari para wartawan media cetak yang secara khusus melakukan wawancara langsung dengannya, dan biasanya majalah atau koran yang memuat wawancara dengan Pram selalu habis dibeli oleh pembacanya.

Umumnya wawancara dengan Pram hanya dapat dijumpai di majalah atau koran-koran atau beberapa buku yang menyajikan cuplikan wawancara dengan Pram, kini buku "Saya Terbakar Amarah Sendirian!" tersaji dalam bentuk wawancara utuh antara Pram dengan Andre Vltchek (penulis, wartawan, analis politik amerika Serikat) & Rossie Indira. (arsitek, analis bisnis, penulis di harian Jakarta Post, Gatra,dll).

Buku menarik ini memuat lebih dari 150 pertanyaan yang diajukan oleh pewawancaranya. Wawancara yang berlangsung dalam kurun waktu 4 bulan (Desember 2003-Maret 2004) ini dibagi kedalam 12 bab yang disusun berdasarkan topiknya yang terdiri dari

- Wawancara di Jakarta
- Sebelum 1965 : Sejarah, Kolonialisme, Dan Soeharto
- Kudeta 1965
- Masa Penahanan
- Budaya dan Jawanisme
- Karya Sastra
- Soeharto, Rezimnya, dan Indonesia Saat ini
- Timor Leste dan Aceh
- Keterlibatan Amerika Serikat
- Rekonsiliasi ?
- Revolusi : Masa Depan Indonesia
- Sebelum Berpisah

Dari keseluruhan bab-bab diatas pembaca buku ini akan diajak menyelami apa yang ada dalam benak seorang Pramoedya Ananta Toer. Tajamnya pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Andre Vltchek & Rossi Indira membuat seluruh perasaan dan pemikiran Pram yang tetap konsisten dari dulu hingga kini terungkap secara jelas dan apa adanya.

Pada bab "Masa Penahanan" pembaca akan diajak menyelami kehidupan Pram di Pulau Buru dimana nyawa manusia menjadi demikian tidak berartinya, kesalahan kecil seperti yang dialami temannya ketika ketahuan menyimpan sepotong koran bekas mengakibatkan temannya harus mengalami penyiksaan yang berakhir dengan kematian. (hal 37). Tempelengan dan siksaan menjadi hal yang biasa terjadi di Pulau Buru. Beruntung Pram tak mengalami siksaan yang berarti karena dirinya selalu dimonitori oleh dunia internasional. Pantauan dunia internasional inilah yang membuat Pram bertahan hidup dan bisa berkarya hingga menghasilkan karya P. Buru yang monumental itu.

Dalam hal budaya ,Pram yang jelas-jelas seorang Jawa mengkritik habis budaya Jawa yang mengharuskan "taat dan patuh pada atasan" yang menurutnya mengarah kepada fasisme (hal 45). Menurut Pram hal inilah yang menyebabkan bangsa kita terjajah, para kepala desa diberi emas dan perak sebagai sogokan atau kompensasi, sehingga mereka tidak berani protes. Dan rakyatnya pun tak berani melawan karena mereka menghormati atasannya. Inilah yang dikatakan Pram sebagai Jawanisme!, dan hal ini menurutnya masih terjadi hingga jaman kini dan terbukti hingga kini tak ada yang berani membawa Soeharto ke pengadilan karena semua takut dan patuh pada atasan.

Dalam bidang Sastra, Pram menyesalkan jika hingga kini orang masih saja membicarakan tentang pribadinya, bukan karyanya, sehingga sebagai penulis dirinya tidak selaku diakui (hal67) Di bagian ini juga dijelaskan mengenai proses kreatif Pram baik ketika ia mulai menulis hingga proses kreatifnya di P. Buru. Pram mulai menulis ditahun 1947 karena ia harus menghidupi adik-adiknya, dikatakannya bahwa ia menulis seperti orang gila untuk mendapatakan uang karena ia tak bisa bekerja lain selain menulis (hal 75). Sedangkan inspirasi menulis diperolehnya dari kehidupan. Ketika sesuatu menyinggung dirinya atau membuat dirinya marah, Pram mendapatkan inspirasi untuk melawan. Bagi Pram menulis adalah perlawanan sehingga disemua bukunya ia selalu mengajak pembacanya untuk melawan. Pram yang menurut pengakuannya kini sudah tak bisa menulis lagi semenjak serangan stroke pada tahun 2000 yang lalu, kini menghabiskan waktunya dengan membuat kliping untuk proyek Ensiklopedi Kawasan Indonesia yang kini bahannya sudah mencapai 4 meter! Rencananya jika ia menerima hadiah nobel Sastra, maka uangnya akan dipergunakan untuk menyelesaikan proyek ambisiusnya tersebut.

Dalam bagian-bagian akhir buku ini pada bab Revolusi : Masa Depan Indonesia, Pram secara tegas menyatakan bahwa untuk keluar dari kondisi Indonesia yang semakin buruk ini maka hanya angkatan mudalah yang harus bergerak. Menurutnya sejak tahun 1915 sejarah Indonesia dibuat oleh angkatan muda (hal 114). Sayangnya kini banyak angkatan muda yang konsumtif dan tidak bisa berproduksi atau mengubah situasi, yang dilakukan hanyalah keluyuran dan mendapatkan uang. Pram secara tegas menyatakan jika dirinya menjadi penguasa maka ia akan tetapkan kuota impor barang sehingga akan ada lapangan kerja dan rakyat indonesia dipaksa untuk berproduksi. Bagi Pram hal yang mutlak harus dilakukan untuk mengubah situasi bukan hanya semata menurunkan rezim yang berkuasa, melainkan harus melalui Revolusi total, yang bisa menyingkirkan tenaga-tenaga yang menghambat kemajuan Indonesia.

Ada banyak sekali pemikiran-pemikiran Pram lainnya yang terungkap di buku ini. Kemahiran pewawancara dalam menggali apa yang Pram pikirkan dan rasakan membuat buku ini kaya sekali akan cakupan dan merentang dari masa kemasa mulai dari masa perjuangan kemerdekaan, masa G30S, hingga masa kini, mulai dari soal-soal pribadi, politik hingga budaya, bahkan pandangan Pram akan masalah-masalah di Timor Leste dan Aceh-pun bisa ditemui di buku ini.

Bisa dikatakan buku ini berhasil mengeluarkan semua pemikiran dan beban yang bertumpuk yang mungkin selama ini dipendam atau terlewatkan untuk digali oleh pewawancara lainnya. Apa yang dikatakan Pram melalui buku ini sangat menyentuh perasaan dan bahkan menyedihkan. Beberapa bagian yang menyajikan tentang penindasan historis, politis, dan tak manusiawi diungkap dengan pedas, tanpa tedeng aling-aling, pandangan agama di mata Pram terungkap dengan jelas dan apa adanya. Beberapa pertanyaan dijawab dengan nuansa kemarahan yang meledak-ledak, namun ada juga yang dijawab dengan jawaban-jawaban humor. Pembagian-pembagian buku ini dalam beberapa bab membuat pembaca dapat mengikuti kisah hidupnya mulai dari Pram sebagai seorang penulis yang ditahan pemerintahan Belanda sampai masa pengasingannya di P.Buru dan masa kehidupannya kini yang dirasakannya "terasing di negeri sendiri"

Buku ini sangat baik dibaca oleh para pecinta karya-karya Pramoedya (Pramist) karena seluruh isi buku ini akan menjawab semua pertanyaan yang mungkin menjadi pertanyaan para Pramist juga. Jika dicermati lebih dalam lagi, seluruh jawaban yang diberikan Pram melalui buku ini memang terkesan bahwa ia terbakar oleh amarahnya sendiri pada negeri dan budaya Indonesia yang carut marut ini, secara terstruktur pembaca akan dibawa pada pemikiran-pemikirannya yang kritis seperti yang selalu terekam dalam karya-karyanya. Karena itu, buku ini bukan hanya diperuntukkan bagi para ‘Pramist’ saja, melainkan patut dibaca oleh semua kalangan yang ingin memahami akar-akar persoalan di Indonesia dewasa ini.

adit18_doank@yahoo.com

[+/-] Selengkapnya...

Orang Miskin Dilarang sakit


Judul Buku : Orang Miskin Dilarang Sakit
Penulis : Eko Prasetyo
Penerbit : Resist Book
Tahun terbit : November 2004
Tebal : 145 hal

Setiap orang pasti pernah sakit dan pernah bersinggungan dengan petugas kesehatan dan obat-obatan. Setiap orang yang pernah sakit pasti pernah juga merasakan mahalnya biaya pengobatan. Lalu bagaimana dengan mereka yang miskin dan hidup pas-pasan ketika mereka sakit dan harus berobat ?

Buku ini seperti pada kata pendahuluannya ditulis dengan rasa geram (hal.2). Pengalaman sakit yang pernah dialami penulis (Eko Prasetyo) membuatnya berpikir bahwa penyakit muncul bukan semata-mata karena perilaku kita melainkan karena berbagai faktor diluar kendali kita seperti ledakan industri masakan yang menawarkan berbagai cita rasa yang ikut menceburkan masyarakat kedalam kubangan penyakit berbahaya, obat-obatan yang menimbulkan efek negatif, pencemaran udara, dan sebagainya.

Buku ini juga secara lugas membahas buruknya kondisi dan sistem kesehatan di Indonesia. Kondisi kesehatan dan sistem pelayanan kesehatan yang buruk membuat kesehatan menjadi sesuatu yang mahal. Harga obat dan rumah sakit membumbung tinggi tanpa adanya kontrol. Adanya penyakit malah membuat banyak pihak yang terkait dengan badan-badan kesehatan mendapat untung. Pelayanan kesehatan didasarkan atas berapa tebal kantong kita sanggup membayar demi kesembuhan kita. Selain biaya pengobatan yang tinggi dunia kesehatan kita juga diperburuk dengan beredarnya obat-obat palsu, selain itu penyakit juga dijadikan sebagai alat pelindung bagi para koruptor yang akan menjalani persidangan hingga luput dari tuntutan jaksa.

Siapa yang menjadi korban keburukan sistem pelayanan kesehatan yang buruk tersebut ? Buku ini menyatakan secara jelas bahwa orang miskinlah yang jadi korban. Mereka tidak pernah mendapat layanan kesehatan yang maksimal sementara orang-orang berduit dengan mudahnya menikmati fasilitas pengobatan yang terbaik di rumah sakit internasional dengan fasilitas bak hotel berbintang. Buku ini berisi empat bagian besar yang terdiri dari : Kisah Negeri Penuh Wabah, Sakit Yang Miskin & Yang Kaya, Dunia Medis Yang Kapitalis & Kejam dan bab penutup yang berjudul Surat Untuk Para Pekerja Kesehatan. Dengan membaca buku ini pembaca akan disadarkan betapa buruknya sistem kesehatan di Indoenesia yang tak adil dan diskriminatif.Yang unik dari buku ini hampir tiap halamannya disertai kartun yang menyentil yang membuat pembaca akan tersenyum pahit melihatnya.

Untuk siapa buku ini ditulis? Seperti kata penulisnya, "Bagi Anda yang pernah menjadi korban penganangan medis, buku ini menjadi teman berjuang yang tepat". Selain itu buku inipun sangat baik dibaca oleh para dokter, apoteker, perawat, produsen obat, dan pekerja medis lainnya.

[+/-] Selengkapnya...

An Affair to Forget– Mencintai saja tak pernah cukup


Judul : An Affair to Forget – Mencintai saja tak pernah cukup
Penulis : Armaya Junior
Penyunting : GIta Romadhona
Penerbit : Gagas Media
Cetakan : I, 2008
Tebal : 237 hlm

Hal pertama yang kubayangkan ketika seorang perempuan dikhianati adalah marah besar, bahkan bukan tak mungkin menggugat cerai suaminya. Tapi ketika pengkhianatan itu menimpa Anna, sahabatku, semua itu tak kutemukan darinya. Sebagai perempuan mandiri dan tegar, dia memilih jalan yang bagi orang lain terasa mustahil, yaitu berusaha mencari informasi tentang perempuan selingkuhan suaminya dan..berteman dengannya.

Awalnya tak ada yang salah dengan pernikahan Toni dan Anna, sembilan tahun sudah pernikahan yang mereka lewati. Keluarga yang romantis dan bahagia, dua anak, dan perekonomian yang mapan karena Toni dan Anna sama-sama bekerja dan memiliki karir yang menjanjikan. Namun tiba-tiba Anna melihat keganjilan atas perilaku suaminya. Naluri kewanitaannya sebagai seroang istri mengatakan bahwa Tony telah berselingkuh dengan wanita lain.

Dengan bantuan sahabatnya, Anna mencoba membuktikan kecurigaannya. Dan ternyata benar, Toni, suaminya berselingkuh. Tak dapat dipungkiri kalau ia merasakan pedih dan sakit hati. Namun Anna bukanlah tipe wanita yang cengeng. Ia tidak larut dalam kesedihan, melainkan berusaha untuk mengembalikan suaminya ke dalam pelukannya kembali.

Akhirnya Anna berhasil menemukan wanita selingkuhan suaminya. Ia adalah seorang klien suaminya yang bernama Dini. Namun apa yang dilakukan Anna bukanlah melabrak Dini, atau mengancam suaminya agar segera meninggalkan Dini atau bercerai dengannya. Tidak! Anna justru melakukan tindakan yang sama sekali diluar dugaan siapapun. Ia tekan rasa pedih dan sakit hatinya, alih-alih menaruh dendam dan amarah kekasih suaminya, Anna malah menjalin persahabatan dengan Dini, wanita yang jelas-jelas ingin merengut kebahagiaan rumah tangganya.

Perselingkuhan memang merupakan masalah terbesar dalam keutuhan suatu rumah tangga dan merupakan penyebab utama perceraian. Banyak sudah kisah perselingkuhan diangkat dalam ranah fiksi, namun yang membuat novel ini istimewa adalah bagaimana akhirnya sebuah perselingkuhan diakhiri dengan cara yang tidak lazim seperti yang sering kita dengar dan baca baik di kisah-kisah nyata maupun kisah-kisah fiksi.

Melalui kisah yang dinarasikan oleh tokoh “Aku” selaku sahabat Anna, pembaca akan diajak mengikuti perjuangan Anna untuk merebut kembali suaminya ke pelukannya. Walau bercerita kepedihan soerang wanita namun tidak ada narasi cengeng dalam novel ini. Tokoh-tokoh dalam novel ini adalah tokoh yang tegar, berpendidikan, dan memiliki gaya hidup modern.

Kehidupan masyarakat metropolis menengah keatas dengan gaya hidup yang bebas tergambarkan juga melalui semua tokoh dalam novel ini. Hubungan one night stand untuk mendapatkan seks dan cinta sesaat merupakan hal yang lumrah. Kencan yang berakhir dengan hubungan seks bukan hal yang aneh. Kalaupun ada penyesalan karena telah melakukan hubungan seks, itupun bukan karena tokohnya ingat akan dosa, melainkan karena hubungan persahabatan yang mungkin akan rusak akibat seks.

Karenanya novel ini benar-benar hanya dapat dibaca oleh mereka yang telah berpikir secara dewasa. Deskripsi hubungan seks dan adegan percumbuan walau disampaikan dengan halus namun sanggup membawa pembacanya masuk dalam imajinasi kenikmatan cinta.

Namun dibalik kehidupan bebas para tokoh-tokohnya, ada satu hal yang menarik dan menggugah kesadaran pembacanya. Melalui kisah cinta Anna dan Toni yang begitu romantis dan menggebu-gebu ternyata hal itu tak otomatis membuat rumah tangga mereka bebas dari hantaman badai. Ternyata mencintai saja tak cukup. Ada beberapa hal yang tentunya akan kita peroleh setelah membaca novel ini.

Armaya Junior memang pencerita yang mahir, kita akan dibuat betah menikmati novel ini dan selalu dibuat bertanya-tanya bagaimana kira-kira peristiwa selanjutnya dari kejadian-kejadian yang terjadi di novel ini. Amarya tampaknya juga mahir dalam mendeskripsi detail sebuah tempat atau peristiwa. Selain deksrpisi percumbuan yang memabukkan , pembaca juga diajak masuk dalam detail mengenai rumah dan furniturnya. Dan satu lagi yang unik, pembaca diajak sejenak masuk dalam dunia Akuntansi lewat dialog tokoh-tokohnya.

Novel dengan materi politik, filsafat, budaya, kedokteran, hukum, dll sering kita baca. Namun novel dengan muatan Akuntansi ? rasanya dalam ranah fiksi tanah air, baru Amara Junior yang melakukannya. Salut untuk penulis yang telah melakukan terobosan ini. Bagi pembaca yang mengenal dunia akuntansi hal ini tentu saja sangat menarik, namun bagi mereka yang tidak mengenal permasalahan akuntansi hal ini menjadi bagian yang membosankan.

Namun jangan khawatir, materi akuntansi dalam novel ini tidaklah banyak. Hanya ada dua bagian, di kisah-kisah awal dan di bagian akhir ini. Nah, di bagian mendekati akhir novel (hal 163-165) inilah yang tampaknya agak mengganggu kenikmatan membacanya. Ketika emosi pembaca sudah memuncak ingin segera mengetahui akhir dari kisah ini, tiba-tiba penulis kembali memasukkan dialog akuntansi, walau tak banyak namun cukup mengganggu. Mungkin sebaiknya materi akuntansinya dipadatkan saja dibagain-bagian awal agar emosi pembaca tak terganggu.

Akhirnya dengan segala kelebihan dan kekurangannya, novel yang menurut penulisnya diangkat dari kisah nyata plus materi akuntansi ini telah hadir dan menyemarakkan khazanah sastra kita. Jika mau dicermati dan dimaknai, apa yang telah disajikan oleh penulisnya bukanlah sekedar novel cinta yang menghibur belaka, ada sebuah pesan yang tampaknya ingin disampaikan, selain mencerdaskan pembacanya dengan materi akuntansinya, novel ini juga membuka pikiran pembacanya bahwa ada alternatif lain dalam memecahkan masalah. Mencintai saja tak pernah cukup untuk memelihara keutuhan rumah tangga.

Seperti yang terdapat di lembar terakhir novel ini, Anna mengungkap bahwa ia mau kisah cintanya ini dibukukan agar bisa berbagi kepada banyak orang, “Aku mau share pengalaman biar semua perempuan tahu alternatif memelihara pernikahan mereka” (hal 237)

Tentang Penulis

Armaya Junior adalah nama pena dari Ardian Syam, yang saat ini bekerja di sebuah BUMN terkenal di Medan dan memiliki latar belakang pendidikan Magister Akuntasi
Ia dikenal sebagai seorang penulis buku-buku motivator, “Kacamata Kuda” (Amara Books,2006), Instrumen Orang Sukses (LP-FEUI, 2007), selain itu artikel-artikel motivasinya juga dapat dibaca di www.bukakacamatakuda.blogspot.com. atau di www.andriewongso.com .

Sebagai penulis motivasi ia kini mencoba masuk dalam ranah fiksi. Sebelumnya Armaya memang pernah menulis beberapa puisi dan cerpen di muat di beberapa koran Medan. Mengapa sampai menulis novel? Berdasarkan pengamatannya, ia beranggapan masyarakat kita lebih menyerap pesan apapun lewat media fiksi (seperti cerpen, novel, sinetron, film TV maupun film bioskop). Maka selain menyampaikan pesan lewat media-media serius seperti buku motivasi, ia mencoba menyampaikan lewat novel.

Karena ditantang oleh seorang temannya untuk membuat sebuah novel dengan muatan akuntansi, dan anggapan sebagian besar orang bahwa akuntansi tidak menarik untuk diceritakan, darah akuntannya lalu menggelegak untuk menjawab tantangan tersebut. Maka lahirlah novel perdananya ini dengan muatan akuntansi didalamnya.

Kabarnya Armaya tengah mempersiapkan dua buah novel berikutnya yang juga memasukkan unsur-unsur akuntansi di dalamnya. Selain itu, ia juga sedang menulis buku akuntansi dengan metode yang menyenangkan. Dengan gaya bercerita, dan sebanyak mungkin menghindari kata-kata yang berat, dan diimbuhi dengan komik.

Jika Armaya Junior a.k.a Ardian Syam konsisten menulis novel dengan muatan akuntansi secara menarik, bukan tak mungkin akan terbit genre baru dalam dunia sastra tanah air, yaitu genre SASTRA AKUNTANSI !

adit18euy@yahoo.com

[+/-] Selengkapnya...

Search Thousands of lines of free code at www.Planet-Source-Code.com

Vb World   Java World C++ World ASP World

Advanced Search    Browse

Created: by : Aditya Widyawan Prima